Mita M. Supardi

Jumat, 17 Oktober 2008

Kutu Kupret Sendal Jepret direview SINDO

REMAJA atau yang biasa di sebut anak baru gede (ABG) Sekarang memang ekspresif, atraktif, dan penuh warna menarik sekaligus unik. Mereka seakan mewakili zamannya yang bergerak begitu serbacepat, canggih dan juga instan. hal itu mempengaruhi aktivitas sehari-hari mereka yang tak perlu dibikin Ribet dengan segala tetek bengek yang kaku pokoknya tujuan dan esensinya tercapai dan bisa dimengerti.

Easy going-lah. Tak perlu dibuat pusing manghadapi persoalan, tak perlu di buat susah menjalani hidup, dan tak perlu berkerut-kerut memahami fenomena yang terjadi, Hadapi, Jalani dan biarkan berlalu Toh semua nanti akan berputar dan berulang kembali. Jika kalau enggak bisa mengerti jiwa remaja, Eh ABG sekarang, bisa geleng – geleng kepala atau mengelus dada.

Jadi untuk memahami mereka pun tak perlu dengan cara yang bikin pusing. Cara yang paling mudah untuk memahami remaja adalah dengan mengikuti zaman mereka. Dengan demikian, bisa mengetahui betapa menarik dan unik nya tingkah polah mereka.

Sepeti itu pula memahami buku kutu kupret sendal jepret: berani buang, berani sial karya michan yang di terbitkan gradien mediatama. Cewekasal bandung ini begitu eksperesif, atraktif, penuh warna sekaligus unik, dalam menuangkan catatan harian-nya yang dikumpulkan dalam buku setebal 228 halaman.

Tak perlu berkerut memikirkan judulnya yang tidak lazim didengar telinga untuk sebuah judul buku, meski pun itu sekedar catatan harian, apalagi berusaha memahami dengan mimik serius seluruh isi yang terdiri atas 65 bagian certia,sebab, isinya begitu ringan seputar aktivitas seorang cewek ABG, berbagai peristiwa keseharian yang dialami dan cara pandang terhadap sebuah fenomena disekitarnya yang sekenanya dan kocak.

Misalnya, ketika dia membuang sebelas sandal jepit yang ditemukan di empang. Tiba-tiba benda bau itu kembali kepdanya dan mendarat tepat di mukanya. Karena di sekitarnya tak ada orang lain, dia menilai itu sebuah kutukan dan ada makluk halus pemilih sandal itu sehingga membuatnya ngacir.

Pokoknya berbgai hal seputar ABG, mulai jerawat, malam minggu, temannya hamil di luar nikah, sampai cerita sikap mereka yang narsis, ditulis dengan cara yang ngocol. Karena disampaikan ngocol, jangan dibikin pusing dengan kata, kalimat, dan istilah yang digunakan. Mungkin itulkan gaya komunikasi ABG sekarang yang engga mau pusing dengan masalah bahasa EYD.

Kadang ada kata plesetan, istilah gaul, dicampur inggris ke indonesia, dan yang agak engga masuk logika sehingga terdengar aneh, tapi bikin geli. Misalnya ia adalah anak tunggal darl tiga bersaudara. Padahal yang dimaksud akan pertama dari tiga bersaudara.

Namun, satu hal yang positf, buku ini menunjukan ABG pun bisa energik untuk menulis buku tentang diri meraka sendiri. Secara kreatif melukiskan dunia mereka yang penuh warna. Dan yang penting bisa punya buku. Jadi, so what gitu lho,,,(wasis wibowo SINDO)

Tidak ada komentar: