Mita M. Supardi

Selasa, 10 Maret 2009

Kebahagiaan

Seorang teman berbagi cerita dengan saya melalui note yang dia tag pada saya. Tentang ia dan kenikmatan. Dia bercerita bahwa ia bersenang-senang dengan teman-temannya dengan cara yang cukup hedonis. Sebut saja, pergi makan di tempat paling hip dan berkaraoke-ria sampai sekitar dua jam. Teman saya pikir, dengan dia melakukan hal itu semua bersama teman-teman yang ia sayangi, ia akan menemukan kebahagiaan yang ia maksud. Ternyata, tidak. Semua yang ia katakan 'bersenang-senang' itu tak membuat hati dan pikirannya tetap 'bersenang-senang'. Sampai ketika di perjalanan pulang, ia terenyuh pada seorang nenek yang akan menyebrang jalan. Teman saya ini pun (katanya) membantu nenek renta tersebut. Hingga akhirnya mereka berpisah dan si nenek yang tak lupa mengucapkan terima kasih.

Teman saya memberikan kesannya tentang apa yang terjadi pada dirinya hari itu. Juga tentang dialog kecilnya bersama nenek itu. Berikut adalah kutipan dari akhir note teman saya.

"Setelah kejadian itu, akhirnya saya berpikir lagi. Bukankah malam ini saya telah bersenang-senang bersama teman-teman saya? Tetapi mengapa menolong nenek menyebrang jalan, seribu kali lebih menyenangkan daripada bersenda gurau maupun karaoke? Akhirnya saya mendapatkan pelajaran yang cukup berharga malam itu. Membantu orang lain ternyata merupakan aktifitas yang benar-benar menyenangkan hati dibandingkan jika kita menyenangkan diri sendiri. Apalagi jika kita mampu mengurangi beban hidup yang dirasakan oleh orang lain."
(kutipan dari NOTE milik Brigiv Aditya)

Pertanyaannya, mengapa teman saya ini merasa seribu kali lebih senang setelah membantu nenek tua itu daripada menghabiskan waktu berjam-jam bersama teman-temannya?
Jawabannya adalah dia bisa merasa senang, karena apa yang sudah ia lakukan itu adalah apa yang muncul dari hatinya dan sebenarnya, ia sendiri yang telah membuatnya-menjadi senang.

Terkadang hal ini memang luput dari kita. Coba deh, kita mengingat-ingat. Pernah nggak di suatu titik, kita merasa hati kita kosong? Merasa diri kita ini 'sakit'? Padahal secara kasat mata, kita ini baik-baik saja. Bahkan bisa dikatakan kita ini memang sehat walafiat. Lalu, kenapa (tiba-tiba) perasaan kosong/hampa/hambar atau apapun itu datang dan seolah menggrogoti hati dan pikiran kita? Apakah ada yang salah dengan kita? Atau itu hanya perasaan menerka-nerka kita saja?

Tidak ada yang tau.
Karena kita sendirilah yang harus mencari tau. Karena, kebahagian itu tidak dari pemberian orang lain, melainkan dari diri kita sendiri.

'Sakit' yang kita rasakan harus dari diri kita yang menghentikannya kemudian lakukanlah perubahan hidup dengan berpikiran positif. Kita bisa mengawalinya dengan bertanya pada diri sendiri, "jika kita bisa menikmati setiap detik dalam hidup kita, apa yang akan terjadi pada diri kita?"
Jawaban yang terlontar, baik atau buruk, itulah yang harus menjadi dasar kita. Karena esensinya, perasaan senang itu datang dari diri kita, datang dari apa yang ada di pikiran kita. Bahagia juga bisa di dapatkan di manapun kita berada sekarang.

Tidak ada mantra atau ramuan apapun yang bisa membuat seseorang bahagia. Sekalipun itu adalah harta yang berlimpah. Karena bahagia itu datangnya dari hati dan tidak bisa dibeli oleh materi.

Terakhir, menurut saya, mencari kebahagiaan itu bukan sesederhana seperti menghitung lidi, yang kalau 1 + 1 = 2. Tidak pula serumit mencari jarum di antara tumpukan jerami.
Tapi kebahagiaan itu sebenarnya akan kita dapatkan ketika kita yakin akan kebahagian itu ada dan akan datang pada kita.

Kebahagiaan itu seperti mencari jalan pulang. Melalui peta (insting). Di mana kita meyakini dulu keberadaan kita saat ini, kemudian kita berjalan untuk menapaki titik demi titik persinggahan yang harus kita lalui sampai mencapai jalan pulang.

Bukankah menemukan jalan pulang adalah sebuah kebahagiaan? Hahaha.. tak perlulah kita jawab. Baiklah semua, selamat mencari kebahagiaan ya?

Tidak ada komentar: