Mita M. Supardi

Rabu, 04 Maret 2009

Perempuan dan Kemerdekaan Agama

Setelah menonton film OSAMA yang dihadirkan pada kuliah Fenomenologi Agama, saya tertarik sekali untuk sedikit membahas dan beropini tentang film OSAMA tersebut dari beberapa konteks. Meskipun saya tau tulisan saya ini masih jauh dari sempurna. Hehe. Sekedar ingin sharing saja kok. Hehe..sukur-sukur bisa bermanfaat buat orang lain.

FILM
Osama (2003)


PERAN AGAMA BAGI KEMERDEKAAN AGAMA TERUTAMA BAGI KAUM PEREMPUAN
Agama memiliki peran untuk bisa membatasi sekaligus memberi ruang untuk manusia bisa merasa ‘bebas’. Manusia beragama pasti bertujuan menginginkan kedamaian. Lalu, kemerdekaan agama sendiri maksudnya adalah di mana agama memiliki kebebasan untuk bisa menyampaikan wahyu Tuhan melalui nabi kepada seluruh manusia.
Dalam film OSAMA, peran agama sepertinya belum ter-implementasi dengan baik. Karena yang seharusnya agama bisa memberikan kebebasan –dalam bentuk tanpa adanya pembeda-bedaan—dalam film ini justru menunjukkan adanya diskriminasi gender. Agama yang harusnya mengedepankan keadilan, kesetaraan, dan anti diskriminasi, tidak diwujudkan oleh pemerintah Taliban.
Kejadian tersebut menunjukkan bahwa adanya sekularisme yang ambigu. Karena hal tersebut tidak bisa digolongkan antara sekularisme ekstrim ataupun moderat. Jika rezim Taliban tersebut dikatakan tergolong dalam sekularisme ekstrim—yang tidak mencampurkan agama dalam urusan peraturan serta memiliki cita-cita mengotonomikan nilai duniawi, tapi mereka tetap saja memasukkan unsur agama untuk melatarbelakangi upaya-upaya mereka untuk mencapai otonomi yang mereka maksud tersebut. Sedangkan, jika Taliban digolongkan dalam sekularisme moderat—yang melibatkan agama dalam pemerintahannya, kenapa terjadi chaos—seperti unjuk rasa para wanita yang ingin sekali memiliki hak untuk bisa bekerja, kemudian memperlakukan perempuan sebagai second sex yang tidak memiliki hak untuk mendapatkan pekerjaan, pendidikan, juga pelayanan kesehatan yang layak. Ini membuat perempuan-perempuan tersebut seperti suatu kesalahan untuk terlahir ke dunia. Karena sempitnya ruang untuk perempuan merasakan apa yang seharusnya juga menjadi haknya.



KAITAN AGAMA DAN KEMANUSIAAN BERDASARKAN FILM ‘OSAMA’
Menurut sejarah, hampir semua agama itu lahir sebagai aksi perlawanan atas konteks sosial-politis yang sarat akan tindakan ketidakadilan, diskriminasi, juga ketidaksetaraan. Agama muncul dengan sebuah tawaran konsep untuk mengapresiasikan prinsip dan nilai yang justru sebaliknya seperti itu. Agama mengedepankan prinsip keadilan, kesetaraan, dan mencita-citakan terbentuknya masyarakat tanpa pembeda-bedaan.
Jika kita melihat sejarah dari berbagai agama, jelas sekali bagaimana agama tampil sebagai ‘pahlawan’ bagi masyarakat. Agama juga tampil sebagai ‘pejuang’ bagi kemerdekaan masyarakat. Tapi apa yang tejabar dalam film ini, adalah hal yang bertolakbelakang dalam ajaran Islam yang anti kekerasan dan tentu saja bertolakbelakang dengan fungsi negara yang seharusnya menjadi payung pelindung untuk semua warganya tanpa terkecuali.


TINDAKAN TOKOH AGAMA KETIKA MUNCUL PRAKTIK KEAGAMAAN
Seharusnya tokoh agama dalam film ini bisa bersikap lebih memperjelas apa itu esensi dari agama itu sendiri. Mungkin salah satunya adalah tidak membiarkan keadaan yang mengatasnamakan agama untuk bertindak kebalikan dari kebaikan agama itu sendiri. Tentunya kejadian tersebut jelas akan berujung dengan adanya tindakan penodaan terhadap agama tersebut.


DIALOG YANG MENUNJUKKAN BESARNYA PERAN AGAMA DALAM MENGUBAH STRUKTUR MASYARAKAT
Yaitu ketika eksekusi para tawanan Taliban yang menurut mereka sudah berbuat kesalahan. Di mana mereka menghukum dengan cara-cara yang berdasarkan pada agama. Sementara alasan sebenarnya adalah mereka menggunakan agama sebagai alat politik dalam usaha merasionalisasikan atau memperoleh suatu identitas sebagai akibat timbulnya perubahan keadaan. Alasan lainnya adalah hal tersebut dijadikan suatu pembenaran untuk segala tindakan mereka. Agar seolah-olah apa yang mereka lakukan adalah demi semata-mata menarik perhatian masyarakat yang ada di dalam kekuasaannya


KOMENTAR SINGKAT
Menurut saya film ini bagus. Bisa dijadikan satu pilihan untuk dikoleksi. Selain karena banyak hal yang diangkat, tapi juga penggambaran untuk kejadian-kejadian di waktu kekuasaan rezim Taliban terhadap kaum perempuan yang tidak diberikan hak yang sama atas kaum pria diceritakan cukup detail.

Tidak ada komentar: