Mita M. Supardi

Kamis, 14 Januari 2010

Kakek atau Bapak, apapun.


Dia adalah kakek. Kupanggil ia Bapak. Meskipun dia adalah ayah dari ibuku. Aku lebih senang memanggilnya begitu. Biar terdengar akrab. Bapak, pembelaku, temanku, dan orangtuaku, sedari aku yang berseragam SMA. Kab. Sukabumi - Bandung. Bukan jarak yang dekat untuk aku kuat melalui sembilan jam perjalanan. Tapi bapak dan emak kuat. Mereka aku sebut kakek nenek perkasa. Meski usia terus merambati kemampuan mereka di setiap detiknya.

"Bapak, kapan ke Bandung? Aku kangen mangga!"

Bukan kabarnya yang kutanyakan duluan, tapi buah mangga yang pohonnya ada di sekitar rumah. Bapak selalu membawakannya untukku kalau memang sudah musimnya. Ranum dan manis. Katanya seperti aku yang terlihat mulai gendut. Hahaha. Aku tidak tersinggung. Karena pasti ucapannya adalah kejujuran. Seperti itu komentarnya setelah beberapa lama ia tak bertemu denganku.

Bapak, orang yang selalu ceria dan gembira. Membuat aku sering bersemangat ketika ia menghamburkan cerita-cerita yang ia punya. Entah apa yang menarik, tapi aku selalu tertarik. Buatku, Bapak adalah pendongeng yang hebat. Adik-adikku serta sepupu juga setuju. Kami selalu menanti kisah-kisahnya, terlepas itu kisah nyata atau isapan jempol belaka. Tapi cerita-cerita yang ia kisahakan selalu terdengar hebat buat kami, terlebih aku. Aku yang jadi pengagumnya.

Bapak, mantan seorang tani dan mantri, yang selalu mengingatkanku akan pentingnya hidup berbagi dan merendahkan hati. Tak peduli orang lain menyakiti, tapi kita harus menyayangi, begitu katanya. Bapak selalu menyemangatiku dan selalu mengamini setiap mimpi-mimpi yang sering ku deklarasikan di hadapannya. Ah pasti apa yang aku capai, itu berkat doanya juga.

Pertanyaan yang selalu Bapak tanya, "neng, kumaha sakola teh?"

... dan aku yang menjawab seenak perut. Ah pasti aku berdosa. Tapi bagi Bapak, itulah aku. Cucu pertamanya yang sangat manja.


Aku bangga punya Bapak.



Bandung, 14 Januari 2010

Mita Michan Supardi
(cucu perempuan yang selalu merepotkan)




catatan:
Hari ini aku dapat kabar, kalau beliau sakit. Sampai aku tak mengenali suaranya di telpon. Bapak, harus mau ya dirujuk ke Bandung. Aku dan cucumu yang lain, menyayangimu. Terlebih anak-anak Bapak yang sedang merantau di sebrang sana.

Teman-teman, saya mohon doanya, untuk Bapak yang sedang sakit.

4 komentar:

Yessi mengatakan...

aku ikut mendoakan...
semoga beliau lekas sembuh :)

aku juga menganggap kakekku seperti bapak
karena masa kecilku kuhabiskan bersama kakek

Arya mengatakan...

Aku ikutan doain biar kakek cepet sembuh yah...soal Mimi gendut setuju banget ma kakek...kalo soal manisnya...pasti kakek bohong soal yang satu itu.

Maka percayalah Mimi gendut...dan tidak terlalu manis :p

Komenku ngaco maaf...besok andre ke bandung mo ketemu gebetan. aku gak bisa ikutan lagi ujian soalnya.

greengrinn mengatakan...

semoga cepat sembuh,. *walopun aku sepertinya sudah kelamaan* tapi saya tulus~ kabar selanjutnya diposting lagi, ya supaya saya bisa tau juga =)

Anonim mengatakan...

Semoga semuanya baik-baik saja, salam D3pd, ^_^...V