
Dalam hening beberapa detik aku tertegun diam. Teringat ini hari spesial. Hari di mana Mammah dilahirkan. Ah teringat ada sebuah kado yang kubungkus dengan terburu-buru untuknya. Pikirku, pasti kado ini sudah sampai.
Kepada Mammah, aku putrimu di sini sudah berdoa banyak, terlebih untuk hari ini. Lebih banyak dari biasanya. Mungkin Tuhan saja kaget, karena aku menghambur doa untukmu. Entah apa kado yang harus aku berikan, tapi katamu, mendengar aku baik-baik saja itu sudah cukup. Tapi bagiku belum.
Pada telpon di satu siang tadi. Mammah sudah menerima kado dariku. Ucapan terima kasih dan sederet kalimat-kalimat doa ia ucapkan untukku. Jadi siapa yang ulang tahun, Mam? Doa-doamu indah. Menyejukkan hati dan membawakanku getaran-getaran ketenangan di sini. Dalam kalbu yang tak bersisi.
Mammah... aku kangen masakanmu. Masakan terenak dan termahal di dunia. Kusebut mahal karena tidak semua orang dapat merasakan masakan Mammah. Aku juga mau belajar masak, Mah.
Putri pertama yang tak bisa apa-apa. Ralat, belum bisa apa-apa. Aku akui itu. Tapi Mammah selalu menyemangatiku dan aku jadi yakin itu. Aku bisa seperti Mammah.
Mammah... maafkan aku sudah jadi anak perempuanmu yang tengil. Sungguh tidak belum bisa seperti Mammah untuk hebatnya. Mungkin nanti pasti bisa. Yakin. Ketika aku sudah menikah dan punya anak. Tapi tidak sebanyak anak Mammah yang tiga itu (termasuk aku).
Mammah... Hampir tujuh tahun aku tinggal terpisah. Melihat bentang jarak dan waktu, menjadikanku semakin tahu. Mammah adalah ibuku. Ibu terhebat di dunia.
Bandung, 3 Februari 2010
Selamat ulang tahun, Mam... dan berjuta lebih doa dan harapan terbaik.
Untuk dia. Mammahku tersayang.
Mammah... I love you and i always do.
Mita Michan Supardi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar